BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan
jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara
maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang
menyebabakan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat
menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidaktepatan
individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta
dapat menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif (Hawari, 2000).
Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi dan menimbulkan hendaya yang cukup skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang saring ditunjukan oleh adanya gejala positif, diantaranya adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus yang nyata atau klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar. Penanganan atau perawatan intensif perlu diberikan agar klien skizofrenia dengan halusinasi tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi dan menimbulkan hendaya yang cukup skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang saring ditunjukan oleh adanya gejala positif, diantaranya adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus yang nyata atau klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar. Penanganan atau perawatan intensif perlu diberikan agar klien skizofrenia dengan halusinasi tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
BAB II
LANDASAN TEORI
LAPORAN
PENDAHULUAN
1.
Masalah
Utama : Halusinasi
2.
Proses
Terjadinya Masalah
a)
Pengertian
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.
Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi
yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang
agak sempurna.
Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai
keadaan pasien sedih atau yang
dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien
bisa bertengkar atau bicara dengan
suara halusinasi itu. Bisa pula pasien
terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau
bicara keras-keras seperti bila ia menjawab
pertanyaan seseorang atau bibirnya
bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien
menganggap halusinasi datang dari setiap
tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini
kadang-kadang menyenangkan misalnya
bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.
Persepsimerupakan respon dari reseptor sensoris
terhadap stimulus esksternal
,juga pengenalan dan pemahaman terhadap
sensoris yang diinterpretasikan oleh
stimulus yang diterima. Jika diliputi rasa
kecemasan yang berat maka kemampuan
untuk menilai realita dapat terganggu.
Persepsi mengacu pada respon reseptor
sensoris terhadap stimulus. Persepsi juga
melibatkan kognitif dan pengertian
emosional akan objek yang dirasakan. Gangguan
persepsi dapat terjadi pada proses
sensori penglihatan, pendengaran, penciuman,
perabaan dan pengecapan.
Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi
secara umum dapat ditemukan
pada pasien gangguan jiwa seperti:
Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang
berhubungan dengan penggunaan alcohol dan
substansi lingkungan.
Berdasarkan
Halusinasi
Merupakan salah satu gangguan persepsi, dimana terjadi pengalaman
panca
indera tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indra yang
salah).
Menurut Cook dan Fotaine (1987), halusinasi adalah persepsi
sensorik
tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang sering terjadi
tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem
penginderaan
(pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan atau
pengecapan),
sedangkan menurut Wilson (1983), halusinasi adalah
gangguan
penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari
luar
yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran
individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut
terjadi
pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari
individu.
Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak
nyata, yang hanya
dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan.
Ø
Tanda Dan Gejala
Menurut
Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan
jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi
yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi
adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik.
Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan
yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik,
sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama
seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan
individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik
seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada
pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui
namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis ,
sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis ,
pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.
Stuart and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya halusinasi, antara lain:
1. Faktor Biologis
a. Abnormalitas otak seperti : lesi pada areo frontal, temporal dan limbic dapat menyebabkan respon neurobiologis
b. Beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter yang berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine.
2. Faktor sosial Budaya
Stres yang menumpuk, kemiskinan, peperangan, dan kerusuhan, dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaftive.
3. Faktor Pikologis
Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang maladaftive
Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain:
1. Faktor biologis
Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan ketidakmampuan menghadapi rangsangan. Stres biologis ini dapat menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftive.
2. Faktor Stres dan Lingkungan
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi.
3. Faktor Pemicu Gejala
a. Kesehatan
Gizi yang buruk, kurang tidur, kurang tidur, keletihan, ansietas sedang sampai berat, dan gangguan proses informasi.
b. Lingkungan
Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari), rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik, masalah perumahan, gangguan dalam hubungan interpersonal, kesepian (kurang dukungan sosial), tekanan pekerjaan, keterampilan sosial, yang kurang, dan kemiskinan.
c. Sikap/ perilaku
Konsep diri yang rendah, keputusasaan (kurang percaya diri), kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas, perilaku amuk dan agresif.
Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik, stress berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial menarik diri (Townsend, M.C, 1998:156). Menurut Carpenito.L.J, 1998:381). Isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan serta keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangakan menurut Rawlins,R.P dan Heacock, P.E (1998:423)isolasi sosial menarik diri adalah usaha untuk menghindar dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Isloasi sosial menarik diri sering menunjukan adanya perilaku (Carpenito, L.J 1998:382) :
Data Subjektif
a. Mengungkapkan perasaan kesepian, penolakan
b. Melaporkan ketidaknyamanan kontak dengan situasi sosial
c. Mengungkapkan perasaan tidak berguna
Data Objektif
a. Tidak tahan terhadap kontak yang lama
b. Tidak komunikatif
c. Kontak mata buruk
d. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri
e. Kurang aktivitas
f. Wajah tampak murung dan sedih
g. Kegagalan berimteraksi dengan orang lain
2.5 Rentang Respon
Menurut Stuart and Sundeen (1998: 302) persepsi mengacu pada identifikasi dan interpretasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera. Respon neurobiologis sepanjang rentang sehat sakit berkisar dari adaptif pikiran logis, persepsi akurat, emosi konsisten, dan perilaku sesuai sampai dengan respon maladaptif yang meliputi delusi, halusinasi, dan isolasi sosial. Rentang respon dapat digambarkan sebagai berikut:
Rentang Respon neurobiologis
Respon adaptif Respon maladptif
Pikiran logis pikiran kadang menyimpang kelaianan pikiran
Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten Reaksi emosional berlebihan ketidakmampuan
Perilaku sesuai Perilaku tidak lazim untuk mengalami
Hubungan sosial Menarik diri emosi
Ketidakteraturan
Isolasi Sosial
Rentang respon neurobiologis (Stuart and Sundeen, 1998: 302)
c. Akibat
Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Kelliat, BA, 1998: 27). Menurut Townsend, M.C, 1998: suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri dan orang lain.
Seseorang yang dapat beresiko melakukan perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukan perilaku:
Data Subjektif
a. Mengungkapkan, mendengar atau melihat objek yang mengancam
b. Mengungkapkan persaan takut, cemas, dan khawatir
Data Objektif
a. Wajah tegang, merah
b. Mondar-mandir
c. Mata melotot, rahang mengatup
d. Tangan mengepal
e. Keluar keringat banyak
f. Mata melotot
2.7 Masalah dan Data yang harus dikaji
No Masalah Keperawatan Data Subjektif Data Objektif
Masalah Utama:
Gangguan persepsi sensori halusinasi
Masalah Keperawatan:
- klien mengatakan melihat atau mendengar sesuatu
- klien tidak mampu mengenal tempat, waktu dan orang
- kien mengatakan merasa kesepian
- klien mengatakan tidak berguna
- tampak bicara dan tertawa sendiri
- mulut seperti bicara tetapi tidak keluar suara
- berhenti berbicara seolah melihat dan mendengarkan sesuatu
- gerakan mata yang cepat
- tidak tahan terhadap kontak mata yang lama
- tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara
- tidak ada kontak mata
- ekspresi wajah murung, sedih tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri, kurang aktivitas
- tidak komunikatif
2.8 Pohon Masalah
Resiko Tinggi menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Cp Perubahan persepsi sensori: Halusinasi Auditori dan Visual
Isolasi sosial : menarik diri
3.
POHON
MASALAH
Resiko Perilaku Kekerasan
![]() |
||||
|
||||
![]() |
Menarik Diri
4. Masalah Keperawatan
Diagnosa KeperawatanMasalah yang dapat
dirumuskan pada umumnya bersumber dari apa yang klien perlihatkan sampai dengan
adanya halusinasi dan perubahan yang penting dari respon klien terhadap
halusinasi. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin terjadi pad aklien
denganhalusinasi adalah sebagai berikut :
a. Resiko perilaku
kekerasan pada diri sendiri dan orang lain, halusinasi
b. Perubahan persepsi
sensorik : halusinasi, menarik diri
c. Isolasi sosial : menarik diri
5. Rencana Keperawatan
a. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri
dan orang lain berhubungan
dengan halusinasi
Tujuan Umum : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada
diri sendiri dan orang
lain.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol
halusinasinya
5. Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol
halusinasinya
Kriteria Evaluasi :
Klien dapat :
1. Mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini
secara verbal
2. Menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat
halusinasi, cara
memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang
efektif bagi klien
untuk digunakan
3. Menggunakan keluarga untuk mengontrol halusinasi
dengan cara sering
berinteraksi dengan keluarga
4. Menggunakan obat dengan benar
Intervensi :
1.1. Bina Hubungan saling percaya
1.1.1. Salam terapeutik
1.1.2. Perkenalkan diri
1.1.3. Jelaskan tujuan interaksi
1.1.4. Ciptakan lingkungan yang tenang
1.1.5. Buat kontrak yang jelas
1.2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya
1.3. Dengarkan ungkapan klien dengan empati
1.4. Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara
bertahap (waktu
disesuaikan dengan kondisi klien)
1.5. Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal
yang berhubungan
dengan halusinasi
1.6. Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan
menggambarkan
tingkah laku halusinasi
1.7. Identifikasi bersama klien situasi yang
menimbulkan dan tidak
menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi
1.8. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya saat
alami halusinasi.
2.1. Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan
bila sedang
mengalami halusinasi.
3.1. Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi
3.2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
cara
memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien
3.3. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas
kelompok
4.1. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika
mengalami
halusinasi
4.2. Lakukan kunjungan rumah : Diskusikan dengan
keluarga tentang :
4.2.1 Halusinasi klien
4.2.2 Cara memutuskan kelompok
4.2.3 Cara merawat anggota keluarga halusinasi
4.2.4 Cara memodifikasi lingkungan untuk menurunkan
kejadian
halusinasi
4.2.5 Cara memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
pada saat
mengalami halusinasi
5.1. Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat
untuk mengontrol
halusinasi
1.2.
Bantu klien menggunakan
obat secara benar
Sp1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi,
menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol
halusinasi dengan cara pertama : menghardik halusinasi.
Orientasi:
“Assalamualaikum D. Saya
perawat yang akan merawat D. Nama saya SS, senang dipanggil S. Nama D siapa?
Senang dipanggil ap”
“Bagaimana perasaan D
hari ini? Apa keluhan D saat ini”
“Baiklah, bagaimana kalau
kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini D dengar tetapi tak tampak
wujudnya? Dimana kita duduk? Diruang tamu? Berapa lama? Bagaimana kalau 30
menit ”
Kerja:
“ Apakah D mendengar
suara tampak ada wujudnya? Apa yang dikatakan suara itu?”
“ Apakah terus menerus
terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering D dengar suara? Berapa
kali sehari D alami? Pada keaadan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu
sendiri?”
“ Apa yang D rasakan pada
saat mendengar suara itu.
“ Apa yang D lakukan saat
mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu hilang? Bagaimana
kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?
“ D, ada 4 cara untuk
mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik suara tersebut. Ke
dua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ke tiga, melakukan kegiatan
yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan teratur.”
“ Bagaimana kalau kita
belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
“ Caranya sebagai
berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung D bilang, pergi saya tidak mau
dengar,... Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu di ulang-ulang..
Sampai suara itu tak dengar lagi. Coba D peragakan! Nah begitu,.. Bagus! Coba
lagi! Ya bagus D sudah bisa”
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan D
setelah peragakan latihan tadi?” Kalau suara-suara itu muncul lagi, silakan
coba cara tersebut! Bagaimana kalau kita buat jadwal latihannya. Mau jam berapa
saja latihannya? (Saudara masukan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam
jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar
dan latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa D?
Bagaimana kalau 2 jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih? Dimana tempatnya?”
“ Baiklah, sampai jumpa. Assalamualaikum”
SP 2 Pasien: Melatih pasien
mengontrol halusinasi dengan cara ke dua: bercakap-cakap dengan orang lain
Orientasi:
Assalamualaikum D. Bagaimana perasaan D hari
ini? Apakah suara-suaranya masih muncul? apakah sudah dipakai cara yang telah
kita latih? baerkurangkan suara-suaranya bagus! Sesuai janji kita tadi saya
akan latih cara ke dua untuk mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan
orang lain. Kita akan latihan selama 20 menit. Mau dimana? Disini saja?
Kerja:
Cara kedua untuk mencegah atau mengontrol
halusinasi yang lain adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau
D mulai mendengar suara-suara langsung saja cari teman untuk diajak ngobrol.
Minta teman untuk ngobrol dengan D. Contohnya begini... Tolong, saya mulai
dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau kalau ada orang dirumah
misalnya kakak D katakan: Kak, ayo ngobrol dengan D. D sedang dengar
suara-suara. Begitu D.Coba D lakukan sebentar saya tadi lakukan. Ya. Bagus.
Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus ya D!”
Terminasi:
“ Bagaimana perasaanya setelah latihan ini?
Jadi sudah ada berapa cara yang D dipelajari untuk mencegah suara-suara itu?
Bagus, cobalah kedua cara ini kalau D mengalami halusinasi. Bagaimana kalau
kita masukan dalam jadwal kegiatan harian D. Mau jam berapa latihan
bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta sewaktu-waktu suara itu
muncul! Besok pagi saya akan kemari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang
ke tiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam berapa? Bagaimana kalau
jam 10.00? Mau dimana/ Disini lagi? Sampai besok ya. Assalamualaikum”
SP 3 Pasien: Melatih pasien
mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan aktivitas terjadwal
Orientasi:
“Assalamualaikum D. Bagaimana perasaan D
hari ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai dua cara
yang telah kita latih ?
Bagaimana hasilnya ? Bagus ! Sesuai janji
kita, Hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah halusinasi
yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau dimana kau bicara? Baik kita duduk diruang
tamu. Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau 30 menit? Baiklah.”
Kerja:
”Apa saja yang biasa D lakukan? Pagi-pagi
apa kegiatannya, terus jam berikutnya ( terus aja sampai didapatkan kegiatannya
sampai malam). Wah banyak sekali D bisa lakukan. Kegiatan ini dapat D lakukan
untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan kita latih lagi
agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan D setelah kita
bercakap-cakap cara yang ketiga untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali! Coba
sebutkan tiga cara yang telah kita latih untuk mencegah suara-suara. Bagus
sekali. Mari kita masukan dalam jadwal kegiatan harian D. Coba lakukan sesuai
jadwal ya! ( Saudara dapat melatih aktivitas yang lain pada pertemuan berikut
sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam ) Bagaimana kalau
menjelang makan siang nanti, kita membahas cara minum obat yang baik serta guna
obat. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 12 siangi? Di ruang makan ya! Sampai
jumpa. Wassalamualaikum.
b. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
Tujuan Umum : Klien mampu mengontrol halusinasinya
Tujuan Khusus :
1. Klien mampu membina hubungan saling percaya
2. Klien mampu mengenal prilaku menarik dirinya,
misalnya menyebutkan
perilaku menarik diri
3. Klien mampu mengadakan hubungan/sosialisasi dengan
orang lain :
perawat atau klien lain secara bertahap
4. Klien dapat menggunakan keluarga dalam
mengembangkan
kemampuan berhubungan dengan orang lain
Kriteria Evaluasi :
1. Klien dapat dan mau berjabat tangan. Dengan perawat
mau
menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau
duduk
bersama
2. Klien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri
3. Klien mau berhubungan dengan orang lain
4. Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat
berhubungan secara
bertahap dengan keluarga
Intervensi :
1.1. Bina hubungan saling percaya
1.1.1 Buat kontrak dengan klien
1.1.2 Lakukan perkenalan
1.1.3 Panggil nama kesukaan
1.1.4 Ajak klien bercakap-cakap dengan ramah
2.1. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik
diri dan tandatandanya
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan
perasaan penyebab klien tidak mau bergaul/menarik diri
2.2. Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik
diri, tanda-tanda serta
yang mungkin jadi penyebab
2.3. Beri pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaan
3.1. Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan
3.2. Perlahan-lahan serta klien dalam kegiatan ruangan
dengan melalui
tahap-tahap yang ditentukan
3.3. Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai
3.4. Anjurkan klien mengevaluasi secara mandiri
manfaat dari
berhubungan
3.5. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan
klien mengisi
waktunya
3.6. Motivasi klien dalam mengikuti aktivitas ruangan
3.7. Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan
ruangan
4.1 Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling
percaya dengan
keluarga
4.2 Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku
menarik diri, penyebab
dan cara keluarga menghadapi
4.3 Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi
4.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin menengok
klien minimal
sekali seminggu
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan
dengan harga diri rendah
Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain
secara
bertahap
Tujuan Khusus :
Klien dapat :
1. Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
2. Menilai kemampuan diri yang dapat dipergunakan
3. Klien mampu mengevaluasi diri
4. Klien mampu membuat perencanaan yang realistik
untuk dirinya
5. Klien mampu bertanggung jawab dalam tindakan
Kriteria Evaluasi :
1. Klien dapat menyebut minimal 2 aspek positip dari
segi fisik
2. Klien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan
3. Klien dapat menyebutkan efektifitas koping yang
dipergunakan
4. Klien mampu memulai mengevaluasi diri
5. Klien mampu membuat perencanaan yang realistik
sesuai dengan
kemampuan yang ada pada dirinya
6. Klien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang
dilakukan sesuai
dengan rencanan
Intervensi :
1.1. Dorong klien untuk menyebutkan aspek positip yang
ada pada
dirinya dari segi fisik
1.2. Diskusikan dengan klien tentang
harapan-harapannya
1.3. Diskusikan dengan klien keterampilannya yang
menonjol selama di
rumah dan di rumah sakit
1.4. Berikan pujian
2.1. Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi
oleh klien
2.2. Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh klien
2.3. Diskusikan strategi koping yang efektif bagi
klien
3.1. Bersama klien identifikasi stressor dan bagaimana
penialian klien
terhadap stressor
3.2. Jelaskan bahwa keyakinan klien terhadap stressor
mempengaruhi
pikiran dan perilakunya
3.3. Bersama klien identifikasi keyakinan ilustrasikan
tujuan yang tidak
realistik
3.4. Bersama klien identifikasi kekuatan dan sumber
koping yang dimiliki
3.5. Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi
yang cocok
3.6. Diskusikan koping adaptif dan maladaptif
3.7. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang
maladaptif
4.1. Bantu klien untuk mengerti bahwa hanya klien yang
dapat merubah
dirinya bukan orang lain
4.2. Dorong klien untuk merumuskan
perencanaan/tujuannya sendiri
(bukan perawat)
4.3. Diskusikan konsekuensi dan realitas dari
perencanaan/tujuannya
4.4. Bantu klien untuk menetpkan secara jelas
perubahan yang
diharapkan
4.5. Dorong klien untuk memulai pengalaman baru untuk
berkembang
sesuai potensi yang ada pada dirinya
5.1. Beri kesempatan kepada klien untuk sukses
5.2. Bantu klien mendapatkan bantuan yang diperlukan
5.3. Libatkan klien dalam kegiatan kelompok
5.4. Tingkatkan perbedaan diri pada klien didalam
keluarga sebagai
individu yang unik
5.5. Beri waktu yang cukup untuk proses berubah
5.6. Beri dukungan dan reinforcement positip untuk
membantu
mempertahankan kemajuan
yang sudah dimiliki klien
BAB.III
P E N U T U P
Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi
dan pelaksanaan asuhan
keperawatan terhadap pasien, maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1. Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan halusinasi
ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu
dilakukan pendekatan
secara terus menerus, membina hubungan saling percaya
yang dapat
menciptakan suasana terapeutik dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan yang
diberikan.
2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien
khususnya dengan
halusinasi, pasien sangat membutuhkan kehadiran
keluarga sebagai sistem
pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan
dirinya. Disamping itu
perawat / petugas kesehatan juga membutuhkan kehadiran
keluarga dalam
memberikan data yang diperlukan dan membina kerjasama
dalam memberi
perawatan pada pasien. Dalam hal ini penulis dapat
menyimpulkan bahwa
peran serta keluarga merupakan faktor penting dalam
proses penyembuhan
klien.
Saran-saran
1. Dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya
perawat mengikuti
langkah-langkah proses keperawatan dan melaksanakannya
secara sistematis
dan tertulis agar tindakan berhasil dengan optimal
2. Dalam menangani kasus halusinasi hendaknya perawat
melakukan
pendekatan secara bertahap dan terus menerus untuk
membina hubungan
saling percaya antara perawat klien sehingga tercipta
suasana terapeutik
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan
3. Bagi keluarga klien hendaknya sering mengunjungi
klien dirumah sakit,
sehingga keluarga dapat mengetahui perkembangan
kondisi klien dan dapat
membantu perawat bekerja sama dalam pemberian asuhan
keperawatan bagi
klien.
DAFTAR PUSTAKA
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes
R.I. Keperawatan Jiwa. Teori
dan Tindakan Keperawatan Jiwa, Jakarta, 2000
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam
Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC,
Jakarta, 1995
Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC,
Jakarta, 1987
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga
Universitas Press, Surabaya, 1990
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri
Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, Jakarta, 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri,
EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric
Nursing, EGC, Jakarta, 1998
Bet365 Sign Up Offers | £100 in Free Bets - FEBCasino
BalasHapusSign up at Bet365 and enjoy the new customer offer from the UK's leading online betting operator. We offer a range 바카라 배팅 법 of sports betting